Mangkok merah dan tariu merupakan ciri khas kekuatan supranatural kebudayaan dayak dalam konteks peperangan. Mangkok merah adalah sarana komunikasi simbolik untuk mobilisasi massa yang beredar jika orang dayak menganggap kedaulatan suku terancam/dalam bahaya besar. Mangkok merah tidak diedarkan sembarangan melainkan melalui pertimbangan matang dan kebutuhan yang sangat mendesak karena disadari orang dayak bahwa pastilah akan terjadi pertumpahan darah dalam skala besar. Sebelum mangkok merah diedarkan, sang panglima perang dayak wajib mengadakan ritual mato’ yang bertujuan untuk memohon perlindungan serta petunjuk pada Jubata (Tuhan) kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara itu juga sang panglima akan ”nyaru’ tariu” minta bantuan dan kekuatan magis dari roh-roh leluhur. Kemudian roh para leluhur ini merasuki panglima dan mentransfer kekutannya kepada prajurit-prajurit dayak (bala) yang siap berperang. Orang yang jiwanya labil (lamah sumangat) bisa sakit bila mendengar tariu. Mangkok merah: sebenarnya mangkok biasa saja yang terbuat dari bambu/tanah liat yang dibungkus kain merah, hanya didalamnya dimasukan barang-barang yang mengandung makna tertentu seperti darah, arang, daun juang, bulu ayam dan lainnya.
Darah bermakna harus menumpahkan darah, arang bermakna keadaan darurat perang dan juga diartikan membumi hanguskan lawan, daun juang bermakna mangkok merah harus diedarkan terus tanpa kenal rintangan apapun, bulu ayam bermakna gerakan harus secepatnya baik dalam mengedarkan mangkok merah maupun dalam hal ikut perang. Pembawanya pun haruslah bala yang ditunjuk langsung oleh sang panglima
MANGKOK MERAH, MATO’ DAN TARIU
Oktober 3, 2008RIA SINIR DAN DARA ITAPM
September 27, 2008Alkisah dikampung Jarikng, Kec. Sengah Temila, Kab. Landak, Kalbar (sekarang) hiduplah sepasang anak manusia bernama Kaleder dan Anteber yang merupakan asal mula suku dayak kanayatn. Mereka dikaruniai seorang putra yang dinamai Ria Jambi. Kemudian setelah dewasa Ria jambi kawin dengan seorang wanita nan cantik jelita asal gunung Bawakng daerah Sambas bernama Ngatam Barangan, kemudian mereka dikaruniakan lima orang anak laki-laki: Ria Kanu, Ria Tano, Ria Rinding, Ria Tanding dan Ria Jane’. Pada suatu ketika, sedang kelima anak tersebut lagi asyik bermain pangka’ gasikng (adu gasing) dihalaman rumahnya, tiba2 datanglah seorang anak laki-laki yang tidak mereka kenal. Anak tersebut berumur kira-kira 12 tahun. Dengan sikap yang berani dan penuh kepercayaan diri ia datang dan mengadu gasikngnya dengan gasikng yang dimiliki kelima anak Ria Jambi dan gasikng merekapun beradu sampai-sampai gasikng milik anak2 Ria Jambi terpental menembus dinding rumah dan menghantam tempayan kuno dan keramat milik Ria jambi. Setelah itu anak misterius tersebut menghilang tak tahu kemana rimbanya. Keesokan harinya anak ini muncul lagi tatkala anak-anak Ria Jambi sedang bermain seperti sedia kala dan ikut dalam permainan itu. Tanpa sepengetahuan anak-anak itu Ria Jambi memperhatikan mereka dari dalam rumah, tidal lama kemudian dia memanggil anak misterius itu dan menanyai perihal seputar identitasnya. Ria Jambi bertanya: siapa orang tuamu?, dari mana asalmu?, siapa namamu? Ia menjawab: namaku Ria Sinir, aku datang dari gunung bawakng dan bapakku namanya Bujakng Nyangko sedangkan ibuku namanya Ngatam Barangan… Alangkah terkejut bercampur bahagia perasaan Ria Jambi mendengar jawaban Ria Sinir karena ternyata Ia adalah anaknya juga yang telah lama dirindukannya. Ria Sinir dibujuk dan diajak untuk tinggal bersama saudara-saudaranya dan ia menjadi anak kesayangan bapaknya (Ria Jambi),Ria Sinir sangat terharu mendapatkan tawaran dan mengetahui perasaan Ria Jambi tapi itu semua belum dapat dipenuhi sebelum Ria Sinir melaksanakan amanah ibunya untuk mendapatkan selai kulit bakal gawe balak (pesta sunatan) dirinya sendiri. Dengan sumpit dan tangkitn (golok khas kanayatn) Pergilah ia masuk hutan berburu burung enggang. Dengan cekatan ia melangkah dan mengawasi keatas pohon-pohon. Pucuk dicita ulampun tiba, ia melihat seekor burung enggang sedang bertengger diatas pohon kemudian ia mengarahkan sumpitnya ke sasaran, dihembuskannya anak sumpitnya dan, blep.. Anak sumpit melaju menancap tepat ke dada enggang. Namun sungguhpun demikian burung yang kuat terbang ini masih berusaha terbang pulang ke sarangnya. Ria Sinir pun dengan sigap mengejar si enggang hingga burung ini hinggap tepat didepan seorang gadis yang berparas ayu nan jelita, ternyata si enggang adalah burung peliharaan sang gadis. …(bersambung)